Kamis, 24 Maret 2011

BAB 4. SEKTOR PERTANIAN

Pendahuluan
Dalam kesempatan ini saya akan mencoba untuk membahas mengenai sektor pertanian, adapun pembahasannya yaitu meliputi:A. peran sektor pertanian, B. kinerja dan peran sektor pertanian di Indonesia, C. nilai tukar petani dan D. keterkaitan produksi antara sektor pertanian dengan sektor-sektor ekonomi lainnya. Semoga apa yang saya sajikan bisa bermanfaat bagi kita semua, agar lebih menambah pengetahuan kita mengenai perekonomian di Indonesia dan semoga bisa menumbuhkan semangat kita sebagai generasi penerus untuk menjadikan indonesia sebagai negara yang perekonomiannya semakin maju dan berkembang lebih baik.
    A.Peranan Sektor pertanian
      Mengikuti analisis klasik dari kuznets ( 1964 ), pertanian di LDCs dapat dilihat sebagai suatu sektor ekonomi yang sangat potensial dalam empat (4) bentuk kontribusinya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional, yaitu sebagai berikut.
      Ekspansi dari sektor-sektor ekonomi lainnya sangat tergantung pada pertumbuhan outrput di sektor pertanian, baik dari sisi permintaan sebagai sumber pemasokan makanan yang kontinu mengikuti pertumbuhan penduduk, maupun dari sisi penawaran sebagai sumber bahan baku bagi keperluan produksi di sektor-sektor lain seperti industri manufaktur ( misalnya industri makanan dan minuman) dan perdagangan. Kuznets menyebut ini sebagai kontribusi produk.
      Di negara agraris seperti indonesia, pertanian berperan sebagai sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestik bagi produk-produk dari sektor-sektor lainnya. Kuznets menyebutnya kontribusi pasar.
      Sebagai suatu sumber modal untuk investasi di sektor-sektor ekonomi lainnya. Menurut teori penawaran tenaga kerja (L) tak terbatas dari Arthur lewis dan telah terbukti dalam banyak kasus, bahwa dalam proses pembanguan ekonomi terjadi transfer surplus L dari pertanian (pedesaan) ke industri dan sektor-sektor perkotaan lainnya. Kuznets menyebutkan kontribusi faktor-faktor produksi.
      Sebagai sumber penting bagi surplus neraca perdagangan (sumber devisa), baik lewat eksport hasil-hasil pertanian maupun dengan  peningkatan produksi pertanian dalam negri menggantikan impor ( substitusi impor ). Kuznets menyebutnya kontribusi devisa.

    1.Kontribusi  Produk
      Kontribusi produk pertanian terhadap PDB dapat dilihat dari relasi antara pertumbuhan dari kontribusi tersebut dengan pangsa PDB awal dari pertanian dan laju pertumbuhan relatif dari produk-produk neto pertanian dan nonpertanian. Jika Pp  = Produk neto pertanian, PNP = Produk neto nonpertanian, dan PN = total produk nasional atau PDB.
      Laju penurunan peran sektor pertanian secara relatif di dalam ekonomi cenderung berasosiasi dengan kombinasi dari tiga hal berikut. Pangsa PDB awal dari sektor-sektor nonpertanian yang relatif lebih tinggi daripada pangsa PDB awal dari pertanian, laju pertumbuhan output pertanian yang relatif rendah, dan laju pertumbuhan output dari sektor-sektor nonpertanian yang relatif tinggi ( yang membuat suatu perbedaan positif yang besar antara pangsa PDB dari nonpertanian dengan pangsa PDB dari pertanian).
      Di dalam sistem ekonomi terbuka, besarnya kontribusi produk terhadap PDB dari sektor pertanian baik lewat pasar maupun lewat keterkaitan produksi dengan sektor-sektor nonpertanian, misalnya industri manufaktur, juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan. Sektor itu sendiri dalam menghadapi persaingan dari luar. Dari sisi pasar, kasus indonesia menunjukan bahwa pasar domestik didominasi oleh berbagai produk pertanian dari luar negri, mulai dari beras, buah-buahan,  sayuran, hingga daging. Dari sisi keterkaitan produksi, kasus indonesia menunjukkan bahwa banyak industri seperti industri minyak kelapa sawit (CPO) dan industri barang-barang dari kayu dan rotan sering mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku di dalam negri karena komoditi – komoditi tersebut diekspor dengan harga jual di pasar luar negri jauh lebih mahal daripada dijual ke industri-industri tersebut.

    2.Kontribusi pasar
      Negara agraris dengan proporsi populasi pertanian (petani dan keluarganya) yang besar seperti indonesia merupakan sumber sangat penting bagi pertumbuhan pasar domestik produk-produk dari sektor-sektor nonpertanian, khususnya industri manufaktur. Pengeluaran petani untuk produk-produk industri, baik barang-barang konsumer ( makanan, pakaian, rumah atau bahan-bahan bangunan, transportasi, mebel, dan peralatan rumah tangga lainnya), maupun barang-barang perantara untuk kegiatan produksi ( pupuk, pestisida, alat-alat pertanian) memperlihatkan satu aspek dari kontribusi pasar dari sektor pertanian terhadap pembangunan ekonomi lewat efeknya terhadap pertumbuhan dan deversifikasi sektoral.
      Peranan sektor pertanian lewat kontribusi pasarnya terhadap diversikiasi dan pertumbuhan output sektor-sektor nonpertanian seperti yang dijelaskan di atas sangat tergantung pada dua faktor penting yg dapat dianggap sebagai prasyarat. Pertama, dampak dari keterbukaan ekonomi di mana pasar domestik tidak hanya di isi oleh barang-barang buatan dalam  negeri, tetapi juga barang-barang impor. Di dalam sistem ekonomi tertutup, kebutuhan petani akan barang-barang nonmakanan mau tidak mau harus dipenuhi oleh industri dalam negri. Jadi, secara teoritis ( dengan asumsi bahwa faktor –faktor lain mendukung), efek dari pertumbuhan permintaan di pasar domestik terhadap perkembangan dan pertumbuhan industri domestik terjamin sepenuhnya. Ini berbeda jika sistem ekonomi terbuka, di mana industri dalam negri menghadapi persaingan barang-barang impor. Dengan kata lain dalam sistem ekonomi terbuka, pertumbuhan konsumsi yang tinggi dari petani tidak menjamin adanya pertumbuhan yang tinggi di sektor-sektor nonpertanian.
      Kedua, jenis teknologi yang digunakan di sektor pertanian yang menentukan tinggi rendahnya tingkat mekanisasi atau modernisasi di sektor tersebut. Permintaan terhadap barang-barang produsen buatan industri dari kegiatan-kegiatan pertanian tradisional lebih kecil ( baik dalam jumlah maupun komposisinya menurut jenis barang ) dibandingkan permintaan dari sektor pertanian yang sudah modern.

    3.Kontribusi faktor-faktor produksi
      Ada dua faktor produksi yang dapat dialihakn dari pertanian ke sektor-sektor nonpertanian, tanpa harus mengurangi volume produksi ( produktivitas di sektor pertama. Pertama, L: di dalam teori Arthur lewis dikatakan bahwa pada saat pertanian mengalami surplus L ( di mana MP dari penambahan satu  mendekati atau sama dengan nol ) yang menyebabkan tingkat produktifitas pendapatan rill per L di sektor tersebut rendah, akan terjadi transfer L dari pertanian ke industri. Sebagai dampaknya, kapasitas dan volume produksi dari sektor industri meningkat. Kedua, modal: surplus pasar (MS) di sektor pertanian bisa menjadi salah satu sumber I di sektor-sektor lain. MS adalah surplus produk (Pp) di kali harga jual (Pp):
                                                         MS = PP X PP
      Di mana PP adalah produk yang dijual ke pasar, yakni perbedaan antara output total disektor pertanian (TPP) dan bagian yang dikonsumsikan oleh petani (CP):
                                                         PP = TPP - CP
      Jadi, sifat dari MS dapat digambarkan dengan melihat relasi berikut ( Ghatak dan ingersent, 1984):
                                                         MS = f ( Pa’ Tpa’ U )

      Dimana PP = TPP dan U = variabel-variabel lain selain TPP dan PP yang juga berpengaruh terhadap MS. Diharapkan bahwa:
                                                        (∂ MS / ∂PP ) > 0 dan  (∂MS / ∂TPP ) > 0
      Dalam kata lain, sesuai hukum penawaran, semakin tinggi harga produk pertanian, semakin besar suplai produknya. Semakin tinggi output yang dipasarkan, yaitu  ∂Pa / ∂TPa > 0
      Fenomena ini muncul sebagian karena konsumsi komoditi pertanian dari petani telah mencapai tingkat optimum dan sebagian lagi karena suatu kenaikan di dalam permintaan terhadap barang-barang industri dari petani, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan akan uang. Sebagian dari kenaikan pendapatan tersebut akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi, sisanya merupakan tabungan.
      Di indonesia, keterkaitan investasi (I) antara sektor pertanian dengan sektor-sektor nonpertanian sangat perlu ditingkatkan terutama untuk mengurangi ketergantungan indonesia pada pinjaman luar negri (ULN). Akan tetapi, agar peran pertanian tersebut dapat direalisasikan, ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi terlebih dahulu (Griffin, 1979). Pertama, petani-petani harus menjual sebagian dari output-nya ke luar sektornya, atau dalam perkataan lain harus ada MS dari produk pertanian. Kedua, petani-petani harus merupakan penabung neto, dan untuk ini pengeluaran mereka untuk konsumsi harus lebih kecil daripada produksi mereka. Ketiga, tabungan para petani harus lebih besar daripada kebutuhan investasi (S>I) di sektor pertanian.

    4.Kontribusi Devisa
      Kontribusi sektor pertanian terhadap peningkatan devise adalah lewat peningkatan ekspor (X) dan / atau pengurangan tingkat ketergantungan negara terhadap impor (M) atas komoditi-komoditi pertanian. Tentu kontribusi sektor itu terhadap X bisa bersifat tidak langsung, misalnya lewat peningkatan X atau pengurangan M produk-produk berbasis hasil dari sektor pertanian.
      Akan tetapi, peran sektor pertanian dalam penigkatan devisa bisa kontradiksi dengan perannya dalam bentuk kontribusi seperti telah dibahas sebelumnya, kontribusi produk dari sektor pertanian terhadap pasar dan industri domestik bisa tidak besar karena sebagian besar produk pertanian diekspor dan/ atau sebagian besar kebutuhan pasar dan industri domestik disuplai oleh produk-produk impor. Dalam kata lain usaha peningkatan X pertanian bisa berakibat negatif terhadap pasokan pasar dalam negeri, atau sebaliknya, usaha memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bisa menjadi suatu faktor penghambat bagi pertumbuhan X pertanian.
      Untuk menghindari trade-off seperti ini, maka ada dua hal yang perlu dilakukan di sektor pertanian, yakni menambah kapasitas produksi di satu sisi, dan meningkat daya saing produk-produknya di sisi lain. Namun, bagi banyak LDCs termasuk Indonesia,melaksanakan dua pekerjaan ini tidak mudah, terutama karena keterbatasan teknologi,SDM,dan K.

    B.Kinerja Dan Peran Sektor Pertanian Di Indonesia
    1.Pertumbuhan Output Sejak Tahun1970-an
      Mungkin sudah merupakan suatu evolusi alamiah dengan proses industrialization, di mana pangsa output agregat (PDB) dari pertanian relatif menurun sedangkan dari industri manufaktur dan sektor-sektor sekunder lainnya dan sektor tersier meningkat. Perubahan struktur ekonomiseperti ini juga terjadi di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena rata-rata, elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap produk-produk dari sektor-sektor lain seperti barang-barang industri. Jadi, dengan peningkatan pendapatan, laju pertumbuhan permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada terhadap barabg-barang industri.

    2.Pertumbuhan dan Deversifikasi Ekspor
      Komoditas pertanian Indonesia yang di ekspor cukup bervariasi mulai dari getah karet, kopi, udang, rempah-rempah, mutiara, hingga berbagai macam sayur dan buah. Selama 19993-2001, nilai X total dari komoditas-komoditas ini rata-rata pertahun hampir mencapai 3 miliar  dolar AS. Di antara komoditi-komoditi tersebut, yang paling besar nilai ekspornya adalah udang dengan rata-rata sedikit di atas 1 miliar dolar  Asselama periode yang sama. Udang memang merupakan komoditas perikanan yang terpenting dalam X hasil perikanan Indonesia. Selain itu, Indonesia juga mengekspor hasil perikanan bukan bahan makanan seperti rumput laut, mutiara, dan ikan hias.
      Namun dilihat dalam total X nasional, kontribusi pertanian terhadap pembentukan jumlah X nasional sangat kecil. Pada tahun 2002 hanya 4,47% dibandingkan besarnya sumbangan dari industri manufaktur yang mencapai hampir 69,0% (tabel 5.5). Pangsa ini sedikit meningkat dibandingkan januari - mei 2001 . selama januari – mei 2001 nilai X pertanian tercatat sekitar 991,2 juta dolar AS, dan untuk periode yang sama 2002 naik menjadi 995,0 juta dolar AS. Namun, ini tidak berarti peran pertanian dalam pertumbuhan X nasional, khususnya nonmigas sangat kecil. Sebaliknya, sektor ini punya peran besar secara tidak langsung, yakni lewat X dari industri manufaktur, sejak output dari industri manufaktur Indonesia didominasi oleh produk-produk berbasis pertanian seperti makanan dan minuman dan produk-produk dari kulit, bambu, dan rotan.

                                       Tabel 5.5
           Nilai  Ekspor Indonesia Menurut Sektor : Januari-mei 2001 dan 2002

Uraian                   Nilai Fob (juta dolar AS)           % Perubahan Jan-mei      % Peran terhadap total
                           Jan-Mei 2001    Jan-Mei 2002    2002 terhadap 2001          Ekspor jan-mei 2002
Total ekspor           24.503,2            22.285,2              -9,05                             100,00
-Migas                     5.906,4              4.689,3              -20,61                              21,04
-Nonmigas             18.596,8            17.595,9              -5,38                               78,96
-Pertanian                   991,2                 995,0               0,38                                 4,47
-Industri                 16.009,3            15.312,2              -4,35                               68,71
-Pertambangan         1.596,3              1.288,7             -19,27                                5,78
 Dan lain-lain

   
Sumber ; BPS

     Struktur X ini memang sesuai prediksi dari teori pembangunan ekonomi yang hipotesisnya adalah bahwa dalam suatu proses pembangunan ekonomi jangka panjang, semakin tinggi pendapatan per kapita, semakin kecil peran dari sektor-sektor primer, yakni pertambangan dan pertanian, dan semakin besar peran dari sektor-sektor skunder, seperti industri manufaktur dan sektor-sektor tersier didalam ekonomi. Peran ini dapat dilihat dari pembentukan PDB dan X total. Semakin tinggi tingkat pembanguna ekonomi ( yang terefleksi dengan semakin tingginya pendapatan per kapita ), semakin penting peran tidak langsung dari sektor pertanian, yakni sebagai pemasok bahan baku bagi sektor industi manufaktur dan sektor-sektor lainnya. 

   3.Kontribusi Terhadap Kesempatan Kerja
     Di suatu agraris besar seperti Indonesia, dimana ekonomi dalam negrinya masih didominasi  oleh ekonomi pedesaan, sebagian besar dari jumlah angkatan / tenaga kerja (L) bekerja di pertanian. Pada tahun 2000, jumlah orang yang bekerja di pertanian bertambah menjadi 40,7 juta orang lebih, namun masih lebih kecil di bandingkan jumlah pekerja di sektor tersebut pada awal tahun 1990-an, yakni sekitar 1 juta orang.

   4.Ketahanan Pangan
     Di Indonesia, ketahanan pangan merupakan salah satu topik yang sangat penting, bukan saja dilihat dari nolai-nilai ekonomi dan sosial, tetapi masalah ini mengandung konsekuensi politik yang sangat besar. Ketahanan pangan menjadi tambah penting lagi untuk Indonesia karena saat ini Indonesia merupakan salah satu anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Artinya, di satu pihak, pemerintah harus memprhatikan kelangsungan produksi pangan dalam negeri demi menjamin ketahanan pangan, namun, di pihak lain, Indonesia tidak bisa menghambat impor pangan dari luar. Dalam kata lain, apabila Indonesia tidak siap, keanggotaan Indonesia di dalam WTO bisa membuat Indonesia menjadi sangat tergantung pada impor pangan, dan ini dapat mengacam ketahanan pangan di dalam negeri.
       Konsep ketahanan pangan yang dianut Indonesia dapat dilihat dari Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 1996 tentang Pangan, Pasal 1 Ayat 17 yang menyebutkan bahwa "Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau". UU ini sejalan dengan definisi ketahanan pangan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1992, yakni akses setiap RT atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setia waktu untuk keperluan hidup yang sehat. Sementara pada World Food Summit tahun 1996, ketahanan pangan disebut sebagai akses setiap RT atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat dengan persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat (Pambudy , 2002an).
     Konsep ketahanan pangan nasional yang tercantum pada UU No.17 tersebut memberi penekanan pada akses setiap RT terhadap pangan yang cukup, bermutu, dan harganya terjangkau, meskipun katat-kata RT belum berarti menjamin setiap individu di dalam RT mendapat akses yang sama terhadap pangan karena di dalam RT ada relasi kuasa (Pambudy , 2002an). Implikasi kebijakan dari konsep ini adalah bahwa pemerintah, di satu pihak, berkewajiban menjamin kecukupan pangan dalam arti jumlah, dengan mutu yang baik serta stabilitas harga dan di pihak lain, peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya dari golongan berpendapatan rendah.

   a.Kebuthan Pangan Nasional
       Banyak orang memperkirakan bahwa dengan laju pertumbuhan penduduk di dunia yang tetap tinggi setiap tahun, sementara lahan yang tersedia untuk kegiatan-kegiatan pertanian semakin sempit, maka pada suatu saat dunia akan mengalami krisis pangan ( kekurangan stok ). Seperti juga di prediksi oleh teori Malthus. namun keterbatasan stok pangan bisa diakibatkan oleh dua hal: karena volume produksi rendah (yang disebabkan oleh faktor cuaca atau lainya), sementara permintaan besar karena jumlah penduduk dunia bertambah terus atau akibat distribusi yang tidak merata keseluruh dunia: banyak daerah seperti afrika mengalami krisis pangan, sementara di Eropa barat, Amerika Utara, dan sebagian Asia melebihi kelebihan pangan.
     Menurut prediksi FAO, untuk 30 tahun kedepan peningkatan produksi pangan akan bertambah besar dari pada pertumbuhan penduduk dunia. Peningkataan produksi pangan yang tinggi itu akan terjadi di DCs. Selain kecukupan pangan, kualitas makanan juga akan membaik. Menurut data dari FAO, dalam 20 tahun belakangan ini peningkatan produksi pangan di dunia rata-rata per tahun mencapai 2,1%, sedangkan laju pertumbuhan penduduk dunia hanya 1,6%pertahun. Selama periode 2000-2015 peningkatan produksi pangan di perkirakan akan menurun menjadi rata-rata 1,6% per tahun, namun masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan  penduduk dunia yang diprediksi 1,2% per tahun. Untuk periode 2015-2030 FAO memperkirakan produksi pangan akan tumbuh lebih rendah lagiyakni 1,3% per tahun, tetapi masih lebih tinggi daripada pertumbuhan penduduk dunia sebesar 0,8% per tahun. Produksi biji-bijian dunia akan meningkat sebesar 1 miliar ton selama 30 tahun ke depan, dari 1,84 miliar ton di tahun 2000 menjadi 2,84 miliar ton d     i tahun 2030 (Husodo, 2002).
     Walaupun demikian, lebih besarnya tingkat pertumbuhan volume produksi pangan dunia dibandingkan laju pertumbuhan penduduk dunia bukan berarti tidak ada orang yang akan kekurangan pangan. Bahkan sebaliknya, menurut perkiraan FAO jumlah penduduk dunia yang kekurangan pangan akan meningkat, dan pada tahun 2015 diperkirakan sebanyak 580 juta jiwa. Masih akan banyak penduduk dunia yang mengalami kekurangan pangan, sehingga memberi kesan bahwa maslah pangan dunia bukan masalah keterbatasan produksi (seperti dalam pemahaman Malthus) tetapi masalah distribusi.
     Memang tidak ada orang yang bisa mengetahui persis berapa banyak pangan yang dibutuhkan dunia di tahun-tahun mendatang, apalagi untuk suatu periode jangka panjang. Oleh karena itu , orang hanya bisa memprediksi dan resiko kesalahan prediksi selalu ada: prediksi-prediksi yang dibuat bisa jauh lebih besar atau lebih kecil daripada kenyataan nanti. Karena dalam membuat suatu prediksi  mengenai kebutuhan pangan  di masa depan, ada sejumlah faktor penetu yang  juga harus diprediksi terlebih dahulu seperti pertumbuhan penduduk, peningkataan pendapatan riil rata-rata per kapita, ketersedian atau perubahan lahan, dan yang  juga sangat penting adalah perubahan pola konsumsi masyarakat sejalan dengan kenaikan pendapatan. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak lembaga-lembaga atau individu di luar maupun di dalam negeri membuat prediksiyang berbeda mengenai kebutuhan  pangan di masa depan. Misalnya, dengan mengolah data dari berbagai sumber.

     Produksi Dalam Negeri dan Ketergantungn Pada Impor
       Bukan hanya dialami oleh Indonesia, tetapi memang secara umum ketergantungan LDCs terhadap M pangan semakin besar jika dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu. Menurut data dari FAO , M pangan dari  LDCs tahun 1995 sekitar 170 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 270 juta ton pada tahun 2030. Sebaliknya, X produk-produk p DCs akan semakin besar, yang oleh FAO diperkirakan akan naik dari 142 juta ton tahun 1995 menjadi 280 juta ton tahun 2030.
     Dalam hal beras, menurut pengakuan pemerintah, untuk mencakupi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang  jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa, setiap tahunnya harus M beras lebih dari 2 juta ton. Argumen yang sering digunakan pemerintah untuk membenarkan kebijakan M-nya adalah bahwa M beras merupakan suatu kewajiban pemerintah yang tidak bisa di hindari, karena ini bukan semata-mata hanya menyangkut pemberian makanan bagi penduduk tetapi juga menyangkut stabilitas nasional (ekonomi, politik dan sosial).

     Faktor-faktor determinan
       Kemampuan indonesia meningkatkan produksi pertanian untuk swasembada dalam penyediaan pangan sangat ditentukan oleh banyak faktor, eksternal maupun internal. Salah satu faktor eksternal yang tidak bisa dipegaruhi oleh manusia adalah iklim; walaupun dengan kemajuan teknologi saat ini pengaruh negatif dari cuaca buruk terhadap produksi pertanian bisa di minimalisir. Sedangkan faktor-faktor  internal bisa dipengaruhi oleh manusia, diantaranya yang penting adalah luas lahan, bibit berbagai macam pupuk, pestisida, ketersediaan dan kualitas infrastruktur termasuk irigasi, jumlah dan kualitas L (SDM), K dan T.
     Menurut pengamatan Adi (2002), perluasan lahan pertanian memang terjadi selama ini, tetapi berjalan sangat lambat. Lahan sawah sebagai penghasil utama bahan pangan. Adi juga memperkirakan bahwa luas lahan yang berpotensi untuk perluasan areal sawah diIndonesia  sekitar 19 juta ha, tetapi sebagian telah digunakan untuk komoditas lainnya.potensi untuk perluasan areal sawah sekitar 10 juta ha, terluas di papua, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Riau.
       Menurut hasil studi dari sudaryanto (2001), dari total konversi lahan pertanian secara nasional, sekitar 68,3%  diantaranya adalah lahan sawah. JICA (japan internasional cooperation Agency) memproyeksikan, sampai dengan tahun 2020 indonesia akan melakukan konversi lahan irigasi seluas 807.500 ha, dengan rincian 680.000 di jawa, 30.000 di Bali,62.500 di sumatra dan 35.000 di sulawesi (Budhi, 1996). Hasil studi sudaryanto dkk. Menunjukan bahwa selama 1989-1991, dari total konversi lahan sawah di jawa Timur seluas 38.100 ha, sekitar hampir 71%-nya adalah sawah irigasi, dan sisanya adalah sawah tadah hujan. Akibat konversi tersebut sangat tinggi, dilihat dari biaya pembangunan iriiigasi tersebut yang terbuang Cuma-Cuma.
     Sempitnya lahan juga berdampak negatif terhadap produktivitas padi, walaupun pemakaian teknologi serta penerapan metode-metode produksi yang tepat sesuai luas lahan dapat mengurangi dampak negatif tersebut. Tren perkembangan jangka panjang ini mendukung anggapan bahwa salah satu faktor penentu produktivitas pertanian adalah luas lahan, atau memperkuat dugaan umum mengenai adanya suatu korelasi positif antara luas lahan dengan tingkat produktivitas.
     Berdasarkan data SP 1993, tabel 5.18 menunjukan bahwa sebagian besar dari jumlah RT pertanian yang masuk dalam sampel menguaqsai lahan rata-rata dibawah 0,5 ha dari luas lahan sebesar 2,1 juata ha. Sedangkan proporsi dari jumlah RT pertanian tersebut yg memiliki lahan di atas 1 ha tercatat tidak sampai 29%, yang rata-rata memiliki 2,07 ha per keluarga. Pada tahun 2001, rata-rata penguasaan lahan per keluarga dari kelompok dibawah 0,5 ha diperkirakan tidak sampai 0,22 ha, dengan proporsi lebih dari 55% dari jumlah petani.

                                                                        Tabel 5.18
                       Rata-rata penguasaan Lahan oleh RT Pertanian Tanaman Pangan: 1993

Luas lahan yang di kuasai (ha)    Jumlah RT      % RT     Luas lahan (ha)      Rata-rata lahan / RT (ha)
< 0,5 ha                                         8.726.434       48,5        2.099.421                  0,24
0,5-0,99 ha                                    4.130.271        23.0       2.749.943                  0,67
>1 ha                                            5.121.722        28.5      10.591.257                  2,07
  
Total                                             17.978.427      100.0    15.440.621                  0,86

Sumber: SP 1993 (BPS)

   C.Nilai Tukar Petani
   1.Pengertian Nilai Tukar
       Yang dimaksud nilai tukar adalah nilai tukar suatu barang dengan barang lain, jadi suatu rasio harga ( nominal atau indeks ) dari dua barang yang berbeda. Sebagai contoh sederhana, misalnya ada dua jenis barang: A dan B dengan harga masing-masing PA = 10 dan PB = 20. Maka nilai tukar barang A terhadap barang B adalah rasio ( PA/PB ) x 100% = ½. Rasio ini menunjukan bahwa untuk mendapatkan ½ unit B harus ditukar dengan 1 unit A ( atau 1 unit B ditukar dengan 2 unit A).
     Di dalam literatur perdagangan internasional, pertukaran dua barang yang berbeda di pasar dalam negri dalam nilai mata uang nasional disebut dasar tukar dalam negri, sedangkan di pasar internasional dalam nilai mata uang internasional ( misalnya dolar AS) disebut dasar tukar internasional atau umum dikenal dengan terms of trade ( ToT ). Jadi, ToT adalah harga relatif eksport terhadap harga import, atau rasio antara indeks harga eksport terhadap indeks harga M.
     Sedangkan pengertian nilai tukar petani (NTP) sedikit berbeda dengan ToT di atas. NTP hanya menunjukkan perbedaan antara harga output pertanian dengan harga input pertanian, bukan harga barang-barang lain seperti pakaian, sepatu, dan makanan. Atau lebih jelasnya, NTP adalah rasio antara indeks harga yang di trima petani, yakni indeks harga jual output-nya, terhadap indeks harga bertani, misalnya pupuk. Berdasarkan rasio ini, maka dapat dikatakan semakin baik posisi penda[patan petani.
   2.Perkembangan NTP di indonesia
       NTP berbeda menurut wilayah / provinsi karena adanya perbedaan inflasi ( laju pertumbuhan indeks harga konsumen )
     Sistem distribusi pupuk dan input-input pertanian lainnya,serta paerbedaan titik ekuilibrrium pasar itu sendiri dipengaruhi oleh kondisi penawaran dan permintaan di wilayah tersebut.dari sisi penawaran,faktor penentu utama adalah folume atau ada),sedangkandari sisi permintaan terutama adalah jumlah penduduk(serta komposisinya menurut umur dan jenis kelamin) dan tingkatan pendapatan riil masyarakat rata-rata perkapita.
     Secara teroritis,dapat diduga bahwa dipusat-pusat produksi beras,misalnya kerawang(jawa barat),pada saat musim panen pasar beras diwilayah tersebut cenderung mengalami stok beras,sehingga harga beras perkilo dipasar lokal cenderung menurun. Sebaliknya pasar beras diwilayah bukan pusat produksi beras,misalnya kalimantan,cenderung mengalami kekurangan,sehingga harga beras perkilo dipasar setempat naik. Akaan tetapi,bukan berarti NTP dikerang selalu harus lebih rendah dikalimantan. Rendah-tingginya NTP juga ditentukan oleh indeks harga input-input pertanian dimasing-masing wilayah biasa saja,misalnya harga beras dikalimantan tinggi karena persedian terbatas, namun harga pupuk disana juga tinggi karena kekurangan stok akibat produksi lokalnya mandek atau ada distorsi dalam distribusi,sehingga NTP diwilayah tersebut rendah.
   3.Penyebab lemahnya NTP
       Sebelumnya,telah dijelaskan bahwa perubahan NTP disebabkan oleh perubahan IT dan / IB. Oleh kaerena itu, pengkajian terhadap penyebab lemahnya NTP dapat dilakukan dengan menganalisis oleh faktor-faktor penyebab redahnya IT dan faktor-faktor penyebab tingginya IB. Diindonesia, petani beras didalam negeri mengalami persaingan yang sangat ketat,termasuk dengan beras inpor. Karena beras merupakan makanan pokok masyarakat indonesia,yang artinya selalau ada permintaan dalam jumlah yang besar, maka semua petani berusaha untuk menanam padi atau memproduksi beras saja. Hal ini membuat harga beras dipasar domestik cenderung menurun hingga (pada titik ekuilibrium jangka panjang) sama dengan biaya marjinal,atau sama dengan biaya rata-rata perunit output. Ini artinya bahwa IT akan sama dengan IB, dan berarti keuntungan petani nol. Sedangkan,jeruk bukan merupakan suatu barang kebutuhan pokok sepenting beras, sehingga walaupun harganya baik tidak semua petani ingin menanam jeruk.jadi,jelas diversifikasi output disekt      or pertanian sangat menentukan baik tidaknya NTP  diindonesia.


   D.Keterkaitan Produksi Antara Sektor Pertanian Dengan Sektor-Sektor Ekonomi lainnya
       Tidak dapat diingkari bahwa salah satu penyebaab krisis ekonomi diindonesaia  tahun 1997 adalah karena kesalahan industrialisasi selama Orde Baru yang tidak berbasis pada pertanian.selama krisis ekonomi juga terbukti bahwa sektor pertanian masih mampu mengalami laju pertumbuhan yang positif, walaupun dalam persentase yang kecil,sedangkan sebagian besar sektor-sektor ekonomi lainnya termasuk industri manufaktur,mengalami laju pertumbuhan yang negatif diatas satu digit.
     Secara teoritis, jumlah output  dari pertanian OA,yang mana Of adalah makanan yang dikonsumsi dipasar domestik dan Ox bahan baku atau komoditas pertanian yang diekspor. X ini memungkinkan negara bersangkutan untuk M sebesar Om, dengan dasar tukar internasional (terms of trade) OT. Denagn adanya M (Om) dan makanan (Of) memungkinkan industri di negara tersebut untuk menghasilkan output sebesar Oi. Jika output pertanian tidak meningkat, X dari sektor tersebut akan berkurang ke Oy,dan ini berarti kebutuhan akan M sebesar Om tidak dapat di penuhi. Oleh sebab itu, dalam usaha meningkatkan volume produksi di sektor industri (ke Oi), output pertanian juga harus ditingkatkan ke OC. Ini akan meningkatkan konsumsi ke Om, dan berarti juga output industri bisa naik ke Oi. Ilustrasi ini menunjukan bahwa tanpa suatu peningkatan output atau produktivitas di sektor pertanian, sektor industri tidak dapat meningkatkan output-nya ( atau pertumbuhan yang tinggi akan sulit tercapai). Oleh karena itu, sektor pertanian memainka      n suatu peran penting dalam pembangunan sektor industri di suatu daerah.
     Berdasarkan data dari bank dunia mengenai pertumbuhan output didua sektor tersebut disejumlah negara di asia untuk periode 1980-1985,tambunan (2001) menunjukan adanya suatu koreali positif ( trend positif) antara pertumbuhan output disektor pertanian dengan disektor industri mannufaktur berdasarkan uraian diatas,pertanian tepat dikatakan sebagai sektor andalan bagi perekonomian nasional,yang berarti juga sebagai motor utama penggerak sektor industri.konsep dasarnya adalah sebagaimana yang dapat dikutip dari simatupang dan syafa’at(2000,hal 9) sebagaiberikut. Sektor andalan perekonomian adalah sektor yang memiliki ketangguhan dan kemaampuan tinggi . sektor andalan merupakan tulang punggung (backbone) dan mesin penggerak perekonomian (engine of growth),sehingga dapat pula disebut sebagai sektor kunci atau sektor pemimpin (leading secto)perekonomian nasional.
     Sebaliknya, lewat keterkaitan produksi, industri manufaktur bisa memainkan suatu peran yang penting untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan sektor pertanian sesuai keunggulan komparatifnya. Contoh konkritnya adalah industri agro seperti industri makanan dan minuman,industri rokok,dan industri yang membuat produk-produk dari kayu,rotan,karet,dan bambu.
     Pentingnya industri agro dalam perekonomian indonesia dapat dilihat dari sejumlah indikator,diantaranya adalah rendahnya kandungan impornya, dan ini menunjukan kuatnya keterkaitan produksi antara industri agro dan pertanian .
       Berdasarkan tabel I-O nasional tahun 1990, hasil estimasi dari Erwidodo (1997) menunjukan M industri agro berkisar dari 0,3%  hingga 14,2% untuk sejumlah industri, dibandingkan Mdari industri-industri nonagro yang berkisar antara 10,8% hingga 32,3% (tabel 5.22). rendahnya ketergantunagan industri agro terhadap M bahan baku dan input lainya sangat sangat menolong Indonesia dalam mengurangi beban keuangan (keperluan devisa) pada masa krisis ekonomi (Bahri, dkk.1998).

                                                             Tabel  5.22
                           Kandungan Impor dari Industri Agro Versus Industri Nonagro

               Kelompok industri                Kandungan impor
            Industri agro   
            -  Makanan                                         0,0036
            -  Gemuk dan Minyak                        0,003
            -  Tepung                                           0,1419
            -  Gula                                               0,0029
            -  Makanan lainnya                            0,0657
            -  Minuma                                         0,01
            -  Rokok                                           0,0438
            -  Bambu,kayu,dan rotan                  0,0188
    
                 Industri nonagro   
            -  Tekstil,pakaian jadi dan kulit*       0,1368
            -  Kertas dan produk-produknya       0,1236
            -  Pupuk dan pestisida                       0,323
            -  Kimia                                             0,3999
            -  Kilangminyak                                 0,5004
            -  Mineral(non logam)                        0,4351
            -  Semen                                            0,6747
            -  Produk-produk logam                    0,4705
            -  Mesin, elektronika, dan lain-lain     0,3183
            -  Transportasi                                   0,1436
   
            
   Keterangan: * = menurut Erwidodo, industri tekstil dan produknya serta kulit dan produknya bukan industri agro. Sumber: Erwidodo (1997)


       Daftar pustaka: 1.Buku perekonomian indonesia Dr. Tulus T.H. Tambunan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar